Jumat, 08 April 2016

laporan kegiatan mensosialisasikan Pancasila pada keluarga

BAB I
PENDAHULUAN

I.1 Latar Belakang
      Istilah Pancasila telah dikenal sejak zaman kerajaan Sriwijaya dan Majapahit dimana sila-sila yang terdapat dalam Pancasila itu sudah diterapkan dalam kehidupan masyarakat maupun kerajaan meskipun sila-sila tersebut belum dirumuskan secara konkrit. Menurut kitab Sutasoma karangan Mpu Tantular, Pancasila berarti “berbatu sendi yang lima” atau “pelaksanaan kesusilaan yang lima”. Ketika sebuah masyarakat bernegara maka harus ada persamaan pikiran dan sikap masyarakat pada suatu negara. Harus meletakkan setiap egonya pada prinsip yang telah disepakati bersama dan menjunjung tinggi prinsip dasar tersebut demi terciptanya rasa aman bermasyarakat dan tercapainya tujuan bernegara yaitu kemakmuran.
      Sejak tahun 2003, berdasarkan Tap MPR no. I/MPR/2003, 36 butir pedoman pengamalan Pancasila telah diganti menjadi 45 butir Pancasila. Namun sayangnya tidak ada kebijakan pemerintah untuk memasukkanya ke dalam kurikulum pendidikan ataupun program doktrinasi lewat media. Sewaktu masih SD, hampir semua murid harus hafal 36 butir Pancasila dan setiap malam disuguhkan kebanggaan pada Garuda Pancasila lewat layar kaca.
      Prinsip dasar Negara Kesatuan Republik Indonesia adalah Pancasila yang mengakomodir dan (harusnya) juga bersifat memaksa sebagai pandangan hidup semua orang yang mengaku Bangsa Indonesia. Dan menjadi sifat dasar bagi semua rakyat Indonesia dalam bermasyarakat. Dalam hal ini penulis ikut melakukan kegiatan sosialisasi pancasila kedalam keluarga agar dari lingkungan keluarga terutama yang disosialisasi (adik) bisa menerapkan nilai pancasila terutama sila ke 4 yang dimana penulis melakukan komunikasi untuk menyampaikan butir-butir pancasila terutama sila ke empat
                                   
I.2 Tujuan
            Tujuan dari kegiatan ini sedikit berbeda pada proposal sebelumnya. Adapun tujuan pelaksanaan kegiatan ini adalah :
1. Agar objek yang di amati lebih bijaksana dalam mengambil keputusan dalam lingkungan baik di lingkungan sekolah maupun di lingkungan kesekitar rumah.
2. Sebagai tugas mata kuliah PANCASILA 
3. meningkatkan kualitas pemahaman adik pada suatu kerakyatan, kebijaksanaan, dan permusyawarahan
4. meningkatkan kepatuhan pada pancasila









BAB II
DASAR MATERI

II.1 Pengertian Pancasila
      Etimologi kata “Pancasila” berasal dari bahasa Sansekerta dari India (bahasa kasta Brahmana) yaitu panca yang berarti “lima” dan sila yang berarti “dasar”. Jadi secara harfiah, “Pancasila” dapat diartikan sebagai “lima dasar”.
            Pancasila sebagai pandangan hidup adalah suatu hal yang dijadikan sebagai pedoman hidup, dimana dengan aturan aturan yang di buat untuk mencapai yang di cita citakan. Pancasila sebagai pandangan hidup merupakan sarana ampuh untuk mempersatukan bangsa Indonesia dan memberi petunjuk dalam mencapai kesejahteraan dan kebahagiaan lahir dan batin dalam masyarakat kita yang beraneka ragam sifatnya.
      Ketika sebuah masyarakat bernegara maka harus ada persamaan fikir dan sikap masyarakat pada negara. Harus meletakkan setiap ego-nya pada prinsip yang telah disepakati bersama dan menjunjung tinggi prinsip dasar tersebut demi terciptanya rasa aman bermasyarakat dan tercapainya tujuan bernegara yaitu kemakmuran.
      Pancasila adalah landasan dari segala keputusan bangsa dan menjadi ideologi tetap bangsa serta mencerminkan kepribadian bangsa. Pancasila merupakan ideologi bagi negara Indonesia. Mempelajari Pancasila lebih dalam menjadikan kita sadar sebagai bangsa Indonesia yang memiliki jati diri dan harus diwujudkan dalam pergaulan hidup sehari-hari untuk menunjukkan identitas bangsa yang lebih bermartabat dan berbudaya tinggi. Untuk itulah kita diharapkan dapat menjelaskan Pancasila sebagai dasar negara dan ideologi negara, menguraikan nilai-nilai Pancasila. beberapa pengertian Pancasila menurut para tokoh pendiri bangsa berikut:
1.        Muhammad Yamin. Pancasila berasal dari kata Panca yang berarti lima dan Sila yang berarti sendi, atas, dasar atau peraturan tingkah laku yang penting dan baik. Dengan demikian Pancasila merupakan lima dasar yang berisi pedoman atau aturan tentang tingkah laku yang penting dan baik.
2.        Ir. Soekarno. Pancasila adalah isi jiwa bangsa Indonesia yang turun-temurun sekian abad lamanya terpendam bisu oleh kebudayaan Barat. Dengan demikian, Pancasila tidak saja falsafah negara, tetapi lebih luas lagi, yakni falsafah bangsa Indonesia.
      Dalam pancasila ini saya mensosialisasikan Sila keempat : Kerakyatan yang dipimpin oleh hikmat kebijaksanaan dalam permusyawaran / perwakilan. Sebagai warga negara dan warga masyarakat, setiap manusia Indonesia mempunyai kedudukan, hak, dan kewajiban yang sama. Tidak boleh memaksakan kehendak kepada orang lain. Mengutamakan musyawarah dalam mengambil keputusan untuk kepentingan bersama. Musyawarah untuk mencapai mufakat diliputi oleh semangat kekeluargaan. Menghormati dan menjunjung tinggi setiap keputusan yang dicapai sebagai hasil musyawarah. Dengan iktikad baik dan rasa tanggung jawab menerima dan melaksanakan hasil keputusan musyawarah.
             


II.2  Butir Pancasila
Butir pancasila sejak tahun 2003, berdasarkan Tap MPR no. I/MPR/2003, 36 butir pedoman pengamalan Pancasila telah diganti menjadi 45 butir dari sila pertama sampai sila ke lima. Adapun butir-butir sila ke empat dalam uud 1945 yaitu  :
1.   Sebagai warga negara dan warga masyarakat, setiap manusia indonesia mempunyai kedudukan hak, dan kewajiban yang sama.
2.   Tidak boleh memaksakan kehendak kepada orang lain
3.   Mengutamakan musyawarah dalam mengambil keputusan untuk kepentingan bersama.
4.   Musyawarah untuk mencapai mufakat diliputi oleh semangat kekeluargaan
5.   Menghormati dan menjunjung tinggi setiap keputusan yang dicapai sebagai hasil musyawarah.
6.   Dengan iktikad baik dan rasa tanggung jawab menerima dan melaksanakan hasil keputusan musyawarah.
7.   Dalam musyawarah diutamakan kepentingan bersama diatas kepentingan pribadi dan golongan.
8.   Musyawarah dilakukan dengan akal sehat dan sesuai dengan hati nurani yang jujur.
9.   Keputusan yang diambil harus dapat dipertanggung jawabkan secara moral kepada Tuhan Yang Maha Esa, menjunjung tinggi harkat dan martabat manusia, nilai-nilai kebenaran dan keadilan, mengutamakan persatuan dan kesatuan demi kepentingan bersama.
10. Memberikan kepercayaan kepada wakil-wakil yang dipercayai untuk melaksanakan pemusyawaratan.

BAB III
TAHAPAN PELAKSANAAN

III.1 Waktu Dan Tempat Pelaksanaan
Ø Tempat Pelaksanaan
a.    Ruang teori : rumah dan lingkungan sekitar
     Pemahaman dari pada sila ke empat disampaikan secara tidak sadar kepada objek, supaya objek lebih memahami penerapan sila ke empat dalam kehidupan sehari-hari..
b.    Proses pelaksanaan : rumah
     Penerapan sila ke empat ini beralamatkan di Jl.Lintas Sumatra No.368 Ujanmas Gunung Katun, kac. Baradatu, Way kanan.
c.         Objek/sasaran kegiatan
Sasaran kegiatan penulis memilih adik laki-laki  yang bernama doni saputra yang sekarang bersetatus pelajar di SMP N 1 Baradatu.

Ø Waktu Pelaksanaan
No.
Tanggal
Uraian
Ket
1.
07-08 Desember 2015 terdapat perubahan jadwal.
Memulai pengamatan kepada objek (doni). Apakah sesuai atau tidak sesuai dengan proposal yang sudah di usulkan. Dalam pelaksanaannya terdapat perbedaan begitupun dalam tujuan, dan  permasalahannya. Pada tanggal 9 saya memulai pendekatan agar lebih mudah melakukan sosialisasi
ü     


2.
10 Desember 2015
Berhubung besok doni akan melakukan ujian semester ganjil terdapat mata pelajaran pkn yang berhubungan dengan pancasila saya sedikit membahas tentang nilai-nilai pancasila.
ü     



3.
11 Desember 2015
Mengamati doni dalam keseharian dan mencoba berdiskusi tentang pelajaran pancasila secara santai kepadanya. Apakah dia suka atau tidak pelajaran kewarganegaraan? Dan saya bertanya baigian yang mana yang di sukainya dan tidak disukainya? Doni menjawab bahwa dia suka pelajaran kewarganegaraan ketika guru menceritakan sejarah, dan paling tidak suka jika di suruh mencatat.
ü     


4.
12 Desember 2015
Doni susah sekali untuk di atur dan kadang tidak suka mendengarkan. Melainkan jika tema yang dibicarakan itu menarik
ü     

5.
13 Desember 2015
Hari ini terdapat keributan diantara kami, karena doni mementingkan kemauannya (egois). Sehingga saya hanya memilih diam dari pada membuat suasana semakin tidak terkendali. Dan pada tanggal 14-15 saya mencoba berbaikan dan mendekati kembali agar objek agar yang saya sampaikan tidak hanya di ia kan saja tapi di terapkan.
ü     



6.
 16 Desember 2015
Hari ini saya menyampaikan makna dari sila keempat dalam sila ini saya membahas tentang budaya demokrasi, bahwa perbedaan itu hal yang wajar dan tidak perlu diperdebatkan dan setiap warga negara Indonesia berhak dan diberi kebebasan dalam menyampaikan pendapatnya baik pribadi maupun di muka umum.
ü     




7.
18 Desember 2015
Saya memberikan kembali tentang makna dari sila ke empat bahwa setiap bangsa indonesia berhak diberi kebebasan memberikan pendapat. Saya juga meminta pendapatnya tentang saya sebagai ayuk. Ya memang pendapatnya tidak saya suka tapi saya menerimanya.
ü     




8.
19 Desember 2015
Saya dan doni mencoba membaca UUD 1945  2014-2019 kami membaca ada 45 butir pancasila didalamnya
ü   

9.
22 Desember 2015
Doni juga sering kali tidak suka bergotong royong di dalam rumah, karna dia lebih suka bermain diluar

ü     

10.
24 Desember 2015
Kami mencoba bermuryawarah tentang keputusan untuk berperilaku adil. Dan saya menjelaskan tentang pancasila.
ü     

11.
23 Desember 2015
Saya mengamati perkembangan doni setelah saya mencoba menerapkan sila ke 4 dalam kehidupan sehari-hari ternyata masih kurang memuaskan


ü     
12.
25 Desember 2015
Pada butir ketujuh ‘Dalam musyawarah diutamakan kepentingan bersama diatas kepentingan pribadi dan golongan’ disini saya mencoba merubah sikap yang mementingkan kepentingan pribadi. Dengan cara menasehati dan mencontohkan.



ü     
13.
26 Desember 2015
Pada hari ini doni bermain di luar, terdapat perbedaan pendapat  diantara mereka sehingga memicu keributan, saya pun menengahi dan mengajak doni pulang. Setelah sampai di rumah saya bercerita tentang masalah yang sama seperti tadi,  berbagi pengalaman yang membuat doni dapat menerima pendapat saya.




ü     
14.
28 Desember 2015
kami mencoba bermusyawarah dengan membuat kesepakatan yang telah di tentukan. Saya mengajak doni bermain tapi memiliki syarat bahwa jika saya menang dia harus mengikuti kemauan saya begitupun sebaliknya, ketika saya menang saya ingin melihat apakah dia konsisten dengan kesepakatan kami sebelumnya, dan Doni akhirnya membaca butir-butir pancasila dan mencoba menerapkannya





ü     
15.
29 Desember 2015
Dalam beberapa hari ini saya melihat hasil bahwa doni menunjukan perkembangan dan sudah mau bermusyawarah dengan baik, tapi masih mementingkan egoisnya saya hanya bisa menetralisir tidak bisa merubah 100% sifatnya karna dia sangat susah diajak bekerjasama bergotong royong di rumah.





ü     
16.
30 Desember 2015
Saat ini doni lebih bisa diajak  berdiskusi, bermusyawarah, dan masih pada sifat egoisnya dalam bergotong royong tapi saya bisa membuat dia menurut karna dia masih tegolong remaja yang suka bermain saya memberikan imbalan dia boleh bermain sesudah selesai bergotong royong di rumah.




ü     




BAB IV
PENUTUP
IV.1 Kesimpulan
          jadi masyarakat harus disiplin terhadap apa yang ada dalam ketentuan negara maupun peraturan-peraturan yang telah di buat, peraturan di buat bukan untuk di langgar melainkan adalah untuk di ikuti sebagai panduan agar kita tetap selamat dalam menjalani hidup ini.
           Kegiatan sosialisasi ini membantu adik saya dalam sikap kesehariannya yang sedikit membaik karena tidak mementingkan keinginan pribadi nya saja melainkan juga memikirkan kepentingan bersama apa lagi ketika bersama adik perempuan saya doni sangat suka membantunya dalam keseharian dan mau bekerja sama secara adil. Walaupun memang ada beberapa tingkahnya yang belum bisa berubah sepenuhnya karna masa doni sekarang memang sedang dalam kata “puber” sedang masa labilnya seperti kadang memilih bermain dari pada membantu orang tua dan dan sedikit egoisnya itu.

IV.2 Saran
      dari rumusan masalah di atas di saran kan agar setiap warga negara mengajarkan kepada anak-anaknya nilai-nilai, makna, dan memberikan contoh penerapannya secara langsung dan sadar agar terwujud lah negri kita yang berideologikan PANCASILA maka akan terlihat negri pancasila yang sesungguhnya.